Jumat, 21 Desember 2012

KADO TERAKHIR

*Coretan tangan ini didedikasikan untuk mereka yang selalu merasa sendirian, putus asa, dan gak percaya sama yang namanya mujizat. Kado Terakir gak berhenti sampai disini loh, jadi tetap kunjungi blog Aloven untuk tau lanjutannya. Semoga bisa jadi inspirasi :)"

Follow me @Antyaloven



“Bapa... ada banyak hal yang masih ingin aku lakukan hari ini. Masih ada banyak mimpi yang ingin aku wujudkan. Bisakah Bapa, aku berdiri hari ini setegar mungkin, tanpa takut melihat kenyataan? Penyakit ini, sedikit demi sedikit mulai mengerogoti tubuhku, aku takut Bapa, aku takut melewati detik demi detik yang tersisa. Bukan hanya tubuhku, tapi semangatku pun mulai melemah. Lihatlah aku Bapa, aku yakin Engkau mengerti betapa tersiksanya aku. Aku gak pernah bisa memahami pemikiran dan racanganMu dalam hidupku, tapi izinkanlah aku ya Bapa untuk melewati detik – detik terakhirku tanpa merasakan sakit ini.”
            Waktu menunjukkan pukul 07.00 WIB, waktunya untuk kembali beraktifitas, gak perduli tua atau muda, miskin atau kaya, pejabat atau pemulung sekali pun. Hari ini, 15 Agustus 2012, aku kembali mendapati diriku di ruangan ini. Dingin, sunyi disertai aroma obat yang menyengat.
Grace Alovenia, begitu orang tuaku menamai bayi mungil mereka 19 tahun yang lalu. Gak ada banyak permintaan istimewa dari balik nama itu, selain berharap bayi mungil mereka kelak akan tumbuh menjadi gadis yang menjadi berkat dari Tuhan, dan bayi mungil itu adalah aku. 
“Pagi Grace.” sapa seseorang berpakaian putih menghampiriku.
“Pagi juga dokter.”
“Periksa dulu ya?” tanya dokter muda ini seraya melontarkan seyuman.
Mataku menatap tajam ke arah dokter yang mulai melakukan beberapa pemeriksaan terhadap detak jantung, denyut nadi dan yang terakhir kornea mataku. Sejak satu bulan yang lalu, aku resmi menjadi penghuni salah satu rumah yang penuh dengan bau obat ini. Rasanya mungkin sama seperti di penjara, makan apa adanya, hanya bisa duduk atau berbaring, selalu ditatap oleh mata – mata yang punya banyak pemikiran atau tudingan yang terselubung. Bedanya adalah, di tempat ini setiap saat aku merasa sakit dan takut melewati setiap detik yang berganti dengan menit.
“Jauh lebih baik dari kemarin loh Grace.” ucap dokter usai memastikan kondisiku.
“Gimana gak lebih baik, kan dikontrol terus.” aku melirik ke arah suster Reva
Suster Reva adalah suster yang selalu menemaniku sepanjang hari sejak aku di rawat di tempat ini. Pribadinya bersahabat, hangat dan penuh kasih. Boleh di bilang sejak awal, Suster Reva satu – satunya teman yang selalu setia berdiri di sampingku. Suster Reva bilang, aku seperti adik yang hilang, dia tidak pernah memperlakukanku layaknya seorang pasien. Setidaknya, aku sedikit merasa tenang setiap kali ada suster Reva yang siap mendengar cerita tentang rasa takutku.
“Pasien itu emang harus di kontrol terus, apalagi kalo pasiennya bandel kaya kamu.” goda suster Reva tersenyum.
“Cepat sembuh ya Grace, nanti siang saya datang lagi. Kamu mau dibawain apa?”
Aku diam sejenak mendengar pertanyaan dokter muda ini.
“Dokter datang lagi mau kontrol saya, atau mau liat suster Reva?” tanyaku menggoda dokter Arlan yang terlihat salah tingkah.
Dokter Arlan satu – satunya dokter spesialis di Rumah Sakit ini yang menangani penyakit yang bersarang di tubuhku kini. Tak banyak yag kuketahui tentang Dokter Arlan, mungkin karna aku gak terlalu mengenalnya. Yang aku tau, Dokter Arlan adalah dokter paling cool di Rumah Sakit ini, dan sejak suster Reva rutin kontrol ke kamarku, sejak saat itu juga Dokter Arlan turut rutin menghampiriku. Jujur, aku sedikit merasa tidak nyaman jika mereka berdua ada di kamarku, kesannya aku lebih diperhatikan dari pasien – pasien yang lain.
“Bercanda kok dokter, kalo boleh sih bawain chocolate ya.”
“Boleh dong. Suster, sa.. sa.. saya keluar duluan ya.” ujar Dokter Arlan terbata melirik ke arah Suster Reva kemudian mengambil posisi balik badan.
“Dokter, itu pintu toilet”
“Iii... iiya sus.” ucap Dokter Arlan dengan raut wajah merona kemudian berlalu.
Aku yang menyaksikan adegan yang terjadi live di hadapanku hanya bisa tertawa melihat tingkah Dokter Arlan yang menggelikan. Bagaimana tidak, untuk yang pertama kalinya aku melihat sosok dokter yang santer terdengar cool itu mati kutu ketika berhadapan langsung dengan Suster Reva.
“Suster, mungkin gak sih Dokter Arlan itu suka sama suster?”
“Hush, jangan sembarangan ngomong. Ntar jadi fitnah loh.” jawab Suster Reva mengambil posisi duduk di samping tempat tidurku.
“Yee, seriusan suster. Nih ya, dari sudut pandang seorang Grace, bisa ditarik kesimpulan kalo Dokter Arlan itu emang suka sama suster.”
“Emangnya kamu punya pengalaman?”
Aku tertegun mendengar pertanyaan Suster Reva. Ingatanku mulai melayang pada memori otak kiri dan kananku yang menyimpan banyak cerita tak terselesaikan. Salah satunya cerita tentang Rafa, cinta pertamaku. Jelas aku sangat mengingatnya, Rafa adalah seniorku sewaktu duduk di bangku Sekolah Dasar, yang kebetulan adalah anak dari sahabat mama. Sejak kecil, Rafa selalu ada di dekatku, pribadinya yang dingin tidak membuatku berhenti mengaguminya. Bagiku, Rafa bukan sekedar anak dari sahabat mama atau kakak kelasku di sekolah, tapi dia adalah orang pertama yang membuatku merasa nyaman ada di dekatya selain orang tua dan keluargaku.
“Kok ngelamun?” tanya Suster  Reva membuyarkan lamunanku.
“Suster pernah jatuh cinta?”
Suster Reva terdiam mendengar pertanyaanku. Tangan lembutnya mulai membelai rambut hitamku yang sedikit kusut.
“Pernah, tapi dulu waktu SMA. Kenapa?”
“Suster, kalo kagum sama seseorang, itu termasuk cinta gak?”
“Sayang, cinta gak sesederhana itu. Ntar, kalo kamu udah ketemu seseorang yang bisa buat kamu tetap berdiri walaupun kamu jatuh, saat itu kamu pasti ngerti cinta itu apa.”
Rafa, mungkin aku terlalu cepat mengartikan rasa kagumku sebagai cinta. Tapi, entah kenapa saat memoriku mulai menceritakan semua tentangnya, hatiku terasa sakit. Terlebih saat keluarganya memutuskan untuk meninggalkan kota kelahiran kami. Aku kehilangan Rafa tepat disaat aku semakin membutuhkannya.
“Udah gimana sayang?” tanya seseorang dari belakang.
Aku membalikkan badanku, yang bertanya adalah mama.
“Dokter bilang lebih baik dari kemarin ma.”
“Puji Tuhan, mama senang dengarnya.” ucap mama sedikit merasa lega mendengar kondisi kesehatanku sekarang.
“Ma, malam ini, aku boleh gak liat bintang keluar?”
“Tunggu sampai kamu benar – benar pulih ya.”
Hatiku miris mendengar jawaban mama. Aku, bahkan mama sendiri juga mengetahui kebenarannya, bahwa aku gak akan pernah pulih lagi. Kecuali, ada keajaiban yang bekerja dalam hidupku, keajaiban yang menjadi alasan aku tetap bertahan sampai detik ini, keajaiban yang entah kapan datangnya.


16 Agustus 2012
Halo Orion di langit biru. Apa kabar? Lama gak bertatap muka sama kamu, aku kangen banget sama sinar terang kamu di langit malam ini. Orion, hari ini, untuk yang kesekian kalinya aku mendapati diriku di kamar ini. Kamu tau, aku benar – benar tersiksa. Setiap saat aroma menyengat ini terus mengerogoti hidungku. Dokter Arlan bilang, kondisiku lebih baik dari sebelumnya. Aku ragu, aku merasa ditipu dan dipermainkan. Mereka, mama, papa dan aku sendiri juga tau, kenyataannya adalah “Kondisiku gak akan pernah lebih baik dari sebelumnya”. Orion, aku tau sebagai seseorang yang punya agama dan iman, aku gak boleh nyerah sama sesuatu yang menjadikanku lemah. Tapi apa aku salah, kalo anggap ini semua gak adil? Di luar sana, Tuhan bisa pilih banyak orang yang jauh lebih kuat, jauh lebih kaya, dan jauh lebih baik dari aku. Tapi kenapa Dia milih aku untuk mikul beban seberat ini? Aku gak sanggup setiap kali melihat air mata mama terjatuh dari sudut matanya, aku gak kuat setiap kali rasa sakit ini mulai memisahkanku dari logika yang membuatku tetap terjaga. Orion, kalo aja kamu tau, betapa aku ingin semua selesai sampai disini....
“Belum tidur?” tanya seseorang dari arah pintu.
“Suster, kirain siapa.”
“Lagi ngapain sayang?” tanya Suster Reva sembari menghampiriku.
Sejenak aku mengalihkan pandanganku ke arah suster Reva. Untuk sesaat mata kami saling beradu, namun hal itu tidak berlangsung lama ketika Suster Reva menoleh ke luar jendela.
“Kamu suka liat bintang?”
“Saya panggil dia Orion.”
“Kenapa?”
 “Karna dia punya cerita.” jawabku sembari berjalan menuju tempat tidur, kemudian membaringkan badanku yang terasa lelah.
“Masa sih? Emangnya rasi bintang itu punya cerita?”
Aku tersenyum menanggapi pertanyaan Suster Reva. Ingatanku mulai melayang pada dongeng yang sering kudengar ketika aku kecil. Orion, entah sejak kapan aku mulai memanggilnya seperti seorang sahabat. Mungkin karna aku selalu sendiri, dan merasa kesepian.
“Bukan sekarang sus, waktunya gak tepat kalo harus diceritain sekarang.”
“Kamu, kaya chocolate ya.”
“Kenapa?”
Suster Reva menatapku lembut, mata hitam pekatnya mulai membidik raut wajahku yang terlihat lesu, mungkin karna terlalu lelah menahan sakit yang tiba – tiba muncul dan hilang setelah mataku terpejam.
“Gak semua coklat itu rasanya manis. Kamu tau rasanya coklat asli?”
“Hm, sebelum selimutnya dibuka, rasa coklat kental pasti udah tercium. Ketika satu gigitan melebur, tidak hanya manis, kadang kita akan merasa ada satu sisi yang terasa pahit. Semakin dia melebur, semakin terasa perpaduan rasa pahit dan manis. Coklat, selalu memberi rasa tenang bahkan ketika hati hancur.”
“Kamu seperti itu. Kadang terasa manis, kadang terasa pahit.”
“Maksud suster?”
“Udah malam, waktunya pasien istirahat. Selamat malam coklat kecil.”
Aku memandang jauh ke arah suster Reva yang meghilang di balik pintu. Seperti coklat, kadang terasa manis kadang terasa pahit. Mungkin yang ia maksud adalah hatiku yang selalu berubah. Ya, tepat seperti apa yang suster Reva bilang. Aku seperti coklat yang setiap sisinya merupakan perpaduan rasa manis dan pahit. Kadang terasa nyaman ketika rasa manis itu mendominasi, aku melihat setitik cahaya dari balik ranting pohon yang berdiri tegar dari balik jendela kamarku. Dan kadang, aku gak bisa lihat apa pun dari balik ranting itu, hanya gelap dan rasa sakit ketika rasa pahit itu datang dan mulai mendominasi hidupku.
“Loh, kok kamu keluar kamar?” sapa seorang suster menghampiriku di bangku taman.
“Di kamar pengap suster. Sebentar aja, saya mau duduk disini.”
“Ya udah, lima belas menit ya.”
“Iya sus.”
Langit biru ini, entah aku masih bisa menikmatinya besok atau enggak. Sekarang, aku benar – benar merasa asing pada diriku sendiri. Ada yang berubah, dan perubahan itu membawaku pergi lebih jauh. Tuhan, sampai kapan aku terpenjara dalam rasa takutku sendiri, aku lelah setiap kali mendapati diriku di tempat ini. Setiap kali menyadari aku semakin lemah dari hari kemarin. Mereka yang melihatku tegar, gak pernah tau apa yang ada di dalam hatiku. Gemuruh dahsyat dan berkecambuk, sekuat apa pun aku menolaknya, ia tetap lebih kuat dari benteng tempatku berlindung.
“Udah selesai nih?” tanya Dokter Arlan mengejarku dari belakang.
“Maunya sih satu jam dokter.”
“Sebenernya sih, lebih dari satu jam boleh.”
Aku menghentikan langkah kakiku.
“Tapi kalo kondisi kamu benar – benar fit.”
“Saya udah lebih baik kok dok, buktinya saya bisa keluar kamar sendiri, muka juga gak keliatan pucat. Udah gak sabar masuk kuliah lagi.”
“Kita tunggu hasil pemeriksaan terakhir ya. Kalo semua baik – baik aja, hari itu juga kamu boleh pulang. Ayo, saya antar ke kamar.”
Dengan ditemani dokter Arlan, aku berjalan menuju kamar peristirahatku, tempat dimana rasa pahit coklat lebih mendominasi hidupku. Sepanjang perjalanan, tak sedikitpun aku dan dokter Arlan buka suara, kami hanya melontarkan aksi saling diam yang menciptakan suasana hening. Namun hal itu tidak berlangsung lama ketika kami melintasi ruang UGD.
Langkah kakiku terhenti seketika. Aku menangkap suara jerit tangis seorang wanita berparas cantik dengan tinggi semampai. Di sampingnya berdiri seorang pria yang umurnya enam tahun lebih tua dari wanita tersebut, mungkin suaminya. Perlahan aku menghampiri sepasang suami istri itu. Keduanya langsung menerobos masuk ke ruang UGD. Aku menoleh ke dalam ruang UGD, mencoba untuk mencari tau apa yang tengah terjadi. Ada tubuh lemah terkulai di atas sebuah tempat tidur, disana mataku melihat beberapa suster sedang mencopot beberapa alat yang terpasang di badan seorang gadis.
“Leukimia.” ujar dokter Arlan yang turut menoleh ke dalam ruangan.
“Tapi dia masih kecil, mungkin masih SMP.”
“Kita gak pernah tau seperti apa kematian akan datang.”
Entah karna ucapan dokter Arlan atau karna jerit tangis pilu itu, ada tetesan air yang mengalir dari sudut mataku. Hatiku mulai berkecambuk lagi, aku mulai berfikir bagaimana kematian akan datang menjeputku kelak.
“Cinta!!” teriak seorang pria berlari menuju tempatku dan dokter Arlan berdiri.
Tanpa menghiraukan kami, pria itu langsung menerobos masuk ke dalam dengan air mata yang berlinang. Tertangkap jelas oleh mataku susana duka di dalam sana. Pria itu memeluk tubuh gadis kecil yang terbaring dengan erat, sayup – sayup terdengar suaranya mengatakan “Kakak udah datang”. Melihat kondisiku yang ketakutan, dokter Arlan berusaha untuk membawaku pulang ke kamar.
“Saya mau disini dok, tinggalin saya disini ya.” pintaku.
“Jangan lama – lama ya, kamu harus istirahat.” ucap dokter Arlan kemudian berlalu.
Sepeninggalan dokter Arlan, aku masih setia menjadi saksi rasa duka yang mendalam dari orang – orang di dalam sana. Beberapa suster yang masih berada di dalam kini mulai menarik kain putih sampai menutupi wajah gadis kecil  yang menjadi sumber duka mereka.
Tak berapa lama, mereka semua keluar membawa tubuh tak bernyawa itu entah kemana. Kesedihan mendalam yang menyelimuti mereka kini, rasanya pasti seperti racun yang siap beredar ke semua pembuluh darah, dan dalam hitungan menit racun itu siap menjadi satu – satunya pembunuh tanpa dosa.
Aku menghentikan langkah kakiku ketika salah seorang dari mereka duduk di lantai dengan raut wajah yang semakin mencerminkan rasa sedihnya. Perlahan aku menghampirinya, dan duduk di hadapannya. Tidak, yang aku rasakan ini bukan hanya sekedar rasa iba, tapi lebih dari itu, entah harus menyebutnya apa.
“Seperti coklat.” ucapku memulai pembicaraan sambil memberikan sebatang coklat padanya.
Pria itu menatapku sejenak kemudian melanjutkan aksi tangisnya.
“Kita gak pernah tau kapan kematian akan datang menjemput kita, dan seperti apa dia akan memisahkan kita dari orang – orang yang kita sayang. Hidup itu seperti coklat kan, gak semua rasanya manis. Kadang kita di  kejutkan dengan rasa pahit yang mendominasi. Tapi kalo kita bisa merasakan pahit dan manis itu melebur dalam satu rasa, saat itu kita akan tau kalo kematian bukan hal pasti yang memisahkan kita dari dia yang udah pergi.”
Pria ini kembali menatapku. Mata sembabnya membuatku tak ingin beranjak dari sisinya. Dan entah mengapa, aku memberanikan diri untuk membawanya menangis dalam pelukanku. Pria berwajah blasteran yang tak pernah kukenal sebelumya ini, untuk yang pertama kalinya dalam hidupku, aku memeluk seorang pria selain ayahku.


Siang ini sesuai dengan yang dijadwalkan, aku dan kedua orang tuaku datang berkunjung ke ruangan dokter Arlan. Aku sedikit ragu untuk menginjakkan kakiku ke ruang praktik dokter muda itu, jantungku mulai berdebar ketika mengetahui maksud kunjungan kami adalah untuk mengetahui hasil akhir dari pemeriksaan terakhirku. Tuhan, rasanya aku dihadapkan pada kiamat kecil dalam hidupku. Banyak pemikiran yang mulai menghantuiku kini, belum lagi rasa takut yang masih setia mencekamku.
Aku menghentikan langkah kakiku tepat di depan pitu masuk ruang kerja dokter Arlan, mama dan papaku sudah masuk terlebih dahulu. Beberapa kali kutarik nafas panjang untuk menenangkan pikiran dan perasaanku. “Everything’s gonna be okay. God and His blessing stay always with me.” Hanya kalimat ini yang selalu menggema setiap kali aku dihadapkan pada rasa takutku. Sekali lagi kutarik nafas yang panjang dan mengeluarkannya secara bersamaan dari hidung dan mulutku. Merasa cukup tenang, ku hampiri kedua orang tuaku yang telah bertemu dokter Arlan terlebih dahulu.
“Keliatan tegang.” ucap dokter Arlan melontarkan senyum untuk mencairkan suasana.
“Jadi, hasilnya gimana dok?” tanya papa cemas.
“Semuanya baik – baik aja kok. Grace bisa pulang hari ini juga, tapi harus tetap minum obat, dan rajin cek up.”
Mendengar pengakuan dokter Arlan, kontan aku dan orang tuaku bernafas lega. Dengan  Akhirnya setelah satu bulan di rawat intensif di tempat ini, aku bisa kembali pada duniaku. Dunia tanpa bau obat, dunia dengan wajah cerah sang Orion, dunia dengan sejuta mimpi yang harus terwujud sebelum Tuhan memanggilku kembali kesisi-Nya. Aku sedikit tidak sabar memulai aktifitasku di luar kamar dengan bau obat ini. Dan hal pertama yang ingin aku lakukan adalah, mengunjungi Universitas Musik terkenal di Jakarta. Tempat dimana aku tidak pernah merasa sendirian, tempat dimana ada banyak suara yang memecah kesunyianku.
“Jagan lupa minum obat ya, istirahat juga.” ujar suster Reva seraya memelukku.
“Makasih untuk semuanya suster. Saya pasti hubungin suster terus.”
“Harus, kalo gak ada kabar dari kamu, suster bakalan marah dan gak mau kontrol kamu lagi kalo kamu balik kesini.”
“Kalo bukan suster yang kontrol, berarti dokter Arlan juga gak bakalan datang ke kamar aku dong.”
Suster Reva tertegun, ia melepaskan pelukannya dan mulai menatapku tajam.
“Ih, kamu ini. Emang ada alasan apa dokter Arlan gak mau datang ke kamar kamu lagi? Kan kamu harus diperiksa pagi siang malam.”
“Iya sih sus, tapi dokter Arlan jadi semangat datang karna ada suster. Kan dokternya suka sama suster.”
“Masa?”
“Kalo gak percaya, tanya aja sama orangnya langsung. Tuh!” jawabku kemudian mengacungkan jari telunjukku ke arah dokter Arlan yang berdiri tak jauh dari kami.
Ku hampiri dokter Arlan yang terlihat salah tingkah. Mataku menangkap rona merah di pipinya ketika aku mengedipkan mata kananku.
“Kalo suka, bilang aja dok, ntar hilang loh.”
“Ka... ka... kamu ini, bilang apa coba?”
“Masa harus saya ajarin? Saya masih sembilan belas tahun loh dok.”
“I.. i.. i.. itu.....”
“Lama deh, mana nih dokter yang terkenal cool seantero Rumah Sakit?” godaku sambil tersenyum.
“Saya antar kamu sampai depan ya.” timpal dokter Arlan mengalihkan pembicaraan.
Aku tersenyum menahan tawa mendengar ucapan dokter Arlan, dengan lembut aku menolak tawarannya, berharapan dokter muda ini akan memanfaatkan kesempatannya berdua dengan suster Reva dengan sebaik - baikya. “Kali aja bakalan ada aksi penembakan” pikirku.
Aku terus melangkahkan kakiku menuju pintu keluar. Dari balik pintu kaca itu, aku bisa melihat duniaku dengan jelas. Ada suara denting piano yang mulai terurai lembut di telingaku. Tepat di luar sana, aku mendapati cahaya hangat yang selama ini menerobos masuk ke dalam kamarku dengan cara uniknya.
“Besok Grace boleh langsung kuliah kan ma?” tanyaku pada mama di sela makan malam keluarga kami.
“Tapi jangan lupa bawa obatnya, kalo sakitnya kambuh harus langsung minum obat.”
“Papa juga gak mau tau, jangan ada aksi buang obat lagi. Atau....”
“Atau lebih baik Grace tinggal di Rumah Sakit terus, jadi ada yang kontrol minum obat, makan teratur dan istirahat yang cukup. Iya kan pa?”
“Papa sama mama gak mau kamu kenapa – napa.”
Aku beranjak dari tempat dudukku, ku hampiri mama dan papa yang mulai kehilangan nafsu makannya. Kuraih tangan kedua orang yang sangat kucintai ini, menyatukannya dan dengan lembut menempelkannya di pipi kiri dan kananku.
“Grace gak mau liat mama papa sedih. Kalian berdua, anugrah yang paling indah yang Tuhan kasih. Jangan cemas ya ma, pa.” ungkapku kemudian merangkul kedua orang tuaku.
Andai aja aku tau berapa lama lagi waktu yang aku punya untuk tetap ada di samping mereka, aku ingin Tuhan tau, betapa aku sangat bersyukur di lahirkan dari rahim seorang ibu yang sangat hebat dan berasal dari benih seorang ayah yang penuh dengan kehangatan. Setidaknya, aku bisa bilang ke seluruh dunia kalo seorang Grace hanya perlu mama dan papanya untuk menjadi satu – satunya harta terindah yang pernah Tuhan sediakan semasa hidupku.