*Coretan
tangan ini didedikasikan untuk mereka yang selalu merasa sendirian, putus asa,
dan gak percaya sama yang namanya mujizat. Kado Terakir gak berhenti sampai
disini loh, jadi tetap kunjungi blog Aloven untuk tau lanjutannya. Semoga bisa
jadi inspirasi :)"
Follow me @Antyaloven
Follow me @Antyaloven
“Bapa... ada banyak hal
yang masih ingin aku lakukan hari ini. Masih ada banyak mimpi yang ingin aku
wujudkan. Bisakah Bapa, aku berdiri hari ini setegar mungkin, tanpa takut
melihat kenyataan? Penyakit ini, sedikit demi sedikit mulai mengerogoti tubuhku,
aku takut Bapa, aku takut melewati detik demi detik yang tersisa. Bukan hanya
tubuhku, tapi semangatku pun mulai melemah. Lihatlah aku Bapa, aku yakin Engkau
mengerti betapa tersiksanya aku. Aku gak pernah bisa memahami pemikiran dan
racanganMu dalam hidupku, tapi izinkanlah aku ya Bapa untuk melewati detik –
detik terakhirku tanpa merasakan sakit ini.”
Waktu menunjukkan pukul 07.00 WIB, waktunya untuk kembali
beraktifitas, gak perduli tua atau muda, miskin atau kaya, pejabat atau
pemulung sekali pun. Hari ini, 15 Agustus 2012, aku kembali mendapati diriku di
ruangan ini. Dingin, sunyi disertai aroma obat yang menyengat.
Grace
Alovenia, begitu orang tuaku menamai bayi mungil mereka 19 tahun yang lalu. Gak
ada banyak permintaan istimewa dari balik nama itu, selain berharap bayi mungil
mereka kelak akan tumbuh menjadi gadis yang menjadi berkat dari Tuhan, dan bayi
mungil itu adalah aku.
“Pagi
Grace.” sapa seseorang berpakaian putih menghampiriku.
“Pagi
juga dokter.”
“Periksa
dulu ya?” tanya dokter muda ini seraya melontarkan seyuman.
Mataku
menatap tajam ke arah dokter yang mulai melakukan beberapa pemeriksaan terhadap
detak jantung, denyut nadi dan yang terakhir kornea mataku. Sejak satu bulan
yang lalu, aku resmi menjadi penghuni salah satu rumah yang penuh dengan bau
obat ini. Rasanya mungkin sama seperti di penjara, makan apa adanya, hanya bisa
duduk atau berbaring, selalu ditatap oleh mata – mata yang punya banyak
pemikiran atau tudingan yang terselubung. Bedanya adalah, di tempat ini setiap
saat aku merasa sakit dan takut melewati setiap detik yang berganti dengan
menit.
“Jauh
lebih baik dari kemarin loh Grace.” ucap dokter usai memastikan kondisiku.
“Gimana
gak lebih baik, kan dikontrol terus.” aku melirik ke arah suster Reva
Suster
Reva adalah suster yang selalu menemaniku sepanjang hari sejak aku di rawat di
tempat ini. Pribadinya bersahabat, hangat dan penuh kasih. Boleh di bilang
sejak awal, Suster Reva satu – satunya teman yang selalu setia berdiri di
sampingku. Suster Reva bilang, aku seperti adik yang hilang, dia tidak pernah
memperlakukanku layaknya seorang pasien. Setidaknya, aku sedikit merasa tenang
setiap kali ada suster Reva yang siap mendengar cerita tentang rasa takutku.
“Pasien
itu emang harus di kontrol terus, apalagi kalo pasiennya bandel kaya kamu.”
goda suster Reva tersenyum.
“Cepat
sembuh ya Grace, nanti siang saya datang lagi. Kamu mau dibawain apa?”
Aku
diam sejenak mendengar pertanyaan dokter muda ini.
“Dokter
datang lagi mau kontrol saya, atau mau liat suster Reva?” tanyaku menggoda
dokter Arlan yang terlihat salah tingkah.
Dokter
Arlan satu – satunya dokter spesialis di Rumah Sakit ini yang menangani
penyakit yang bersarang di tubuhku kini. Tak banyak yag kuketahui tentang
Dokter Arlan, mungkin karna aku gak terlalu mengenalnya. Yang aku tau, Dokter
Arlan adalah dokter paling cool di Rumah Sakit ini, dan sejak suster Reva rutin
kontrol ke kamarku, sejak saat itu juga Dokter Arlan turut rutin menghampiriku.
Jujur, aku sedikit merasa tidak nyaman jika mereka berdua ada di kamarku,
kesannya aku lebih diperhatikan dari pasien – pasien yang lain.
“Bercanda
kok dokter, kalo boleh sih bawain chocolate ya.”
“Boleh
dong. Suster, sa.. sa.. saya keluar duluan ya.” ujar Dokter Arlan terbata
melirik ke arah Suster Reva kemudian mengambil posisi balik badan.
“Dokter,
itu pintu toilet”
“Iii...
iiya sus.” ucap Dokter Arlan dengan raut wajah merona kemudian berlalu.
Aku
yang menyaksikan adegan yang terjadi live di hadapanku hanya bisa tertawa
melihat tingkah Dokter Arlan yang menggelikan. Bagaimana tidak, untuk yang
pertama kalinya aku melihat sosok dokter yang santer terdengar cool itu mati
kutu ketika berhadapan langsung dengan Suster Reva.
“Suster,
mungkin gak sih Dokter Arlan itu suka sama suster?”
“Hush,
jangan sembarangan ngomong. Ntar jadi fitnah loh.” jawab Suster Reva mengambil
posisi duduk di samping tempat tidurku.
“Yee,
seriusan suster. Nih ya, dari sudut pandang seorang Grace, bisa ditarik
kesimpulan kalo Dokter Arlan itu emang suka sama suster.”
“Emangnya
kamu punya pengalaman?”
Aku
tertegun mendengar pertanyaan Suster Reva. Ingatanku mulai melayang pada memori
otak kiri dan kananku yang menyimpan banyak cerita tak terselesaikan. Salah
satunya cerita tentang Rafa, cinta pertamaku. Jelas aku sangat mengingatnya,
Rafa adalah seniorku sewaktu duduk di bangku Sekolah Dasar, yang kebetulan
adalah anak dari sahabat mama. Sejak kecil, Rafa selalu ada di dekatku,
pribadinya yang dingin tidak membuatku berhenti mengaguminya. Bagiku, Rafa
bukan sekedar anak dari sahabat mama atau kakak kelasku di sekolah, tapi dia
adalah orang pertama yang membuatku merasa nyaman ada di dekatya selain orang
tua dan keluargaku.
“Kok
ngelamun?” tanya Suster Reva membuyarkan
lamunanku.
“Suster
pernah jatuh cinta?”
Suster
Reva terdiam mendengar pertanyaanku. Tangan lembutnya mulai membelai rambut
hitamku yang sedikit kusut.
“Pernah,
tapi dulu waktu SMA. Kenapa?”
“Suster,
kalo kagum sama seseorang, itu termasuk cinta gak?”
“Sayang,
cinta gak sesederhana itu. Ntar, kalo kamu udah ketemu seseorang yang bisa buat
kamu tetap berdiri walaupun kamu jatuh, saat itu kamu pasti ngerti cinta itu
apa.”
Rafa,
mungkin aku terlalu cepat mengartikan rasa kagumku sebagai cinta. Tapi, entah
kenapa saat memoriku mulai menceritakan semua tentangnya, hatiku terasa sakit. Terlebih
saat keluarganya memutuskan untuk meninggalkan kota kelahiran kami. Aku
kehilangan Rafa tepat disaat aku semakin membutuhkannya.
“Udah
gimana sayang?” tanya seseorang dari belakang.
Aku
membalikkan badanku, yang bertanya adalah mama.
“Dokter
bilang lebih baik dari kemarin ma.”
“Puji
Tuhan, mama senang dengarnya.” ucap mama sedikit merasa lega mendengar kondisi
kesehatanku sekarang.
“Ma,
malam ini, aku boleh gak liat bintang keluar?”
“Tunggu
sampai kamu benar – benar pulih ya.”
Hatiku
miris mendengar jawaban mama. Aku, bahkan mama sendiri juga mengetahui
kebenarannya, bahwa aku gak akan pernah pulih lagi. Kecuali, ada keajaiban yang
bekerja dalam hidupku, keajaiban yang menjadi alasan aku tetap bertahan sampai
detik ini, keajaiban yang entah kapan datangnya.
16
Agustus 2012
Halo
Orion di langit biru. Apa kabar? Lama gak bertatap muka sama kamu, aku kangen
banget sama sinar terang kamu di langit malam ini. Orion, hari ini, untuk yang
kesekian kalinya aku mendapati diriku di kamar ini. Kamu tau, aku benar – benar
tersiksa. Setiap saat aroma menyengat ini terus mengerogoti hidungku. Dokter
Arlan bilang, kondisiku lebih baik dari sebelumnya. Aku ragu, aku merasa ditipu
dan dipermainkan. Mereka, mama, papa dan aku sendiri juga tau, kenyataannya
adalah “Kondisiku gak akan pernah lebih baik dari sebelumnya”. Orion, aku tau
sebagai seseorang yang punya agama dan iman, aku gak boleh nyerah sama sesuatu
yang menjadikanku lemah. Tapi apa aku salah, kalo anggap ini semua gak adil? Di
luar sana, Tuhan bisa pilih banyak orang yang jauh lebih kuat, jauh lebih kaya,
dan jauh lebih baik dari aku. Tapi kenapa Dia milih aku untuk mikul beban
seberat ini? Aku gak sanggup setiap kali melihat air mata mama terjatuh dari
sudut matanya, aku gak kuat setiap kali rasa sakit ini mulai memisahkanku dari
logika yang membuatku tetap terjaga. Orion, kalo aja kamu tau, betapa aku ingin
semua selesai sampai disini....
“Belum
tidur?” tanya seseorang dari arah pintu.
“Suster,
kirain siapa.”
“Lagi
ngapain sayang?” tanya Suster Reva sembari menghampiriku.
Sejenak
aku mengalihkan pandanganku ke arah suster Reva. Untuk sesaat mata kami saling
beradu, namun hal itu tidak berlangsung lama ketika Suster Reva menoleh ke luar
jendela.
“Kamu
suka liat bintang?”
“Saya
panggil dia Orion.”
“Kenapa?”
“Karna dia punya cerita.” jawabku sembari
berjalan menuju tempat tidur, kemudian membaringkan badanku yang terasa lelah.
“Masa
sih? Emangnya rasi bintang itu punya cerita?”
Aku
tersenyum menanggapi pertanyaan Suster Reva. Ingatanku mulai melayang pada
dongeng yang sering kudengar ketika aku kecil. Orion, entah sejak kapan aku
mulai memanggilnya seperti seorang sahabat. Mungkin karna aku selalu sendiri,
dan merasa kesepian.
“Bukan
sekarang sus, waktunya gak tepat kalo harus diceritain sekarang.”
“Kamu,
kaya chocolate ya.”
“Kenapa?”
Suster
Reva menatapku lembut, mata hitam pekatnya mulai membidik raut wajahku yang
terlihat lesu, mungkin karna terlalu lelah menahan sakit yang tiba – tiba
muncul dan hilang setelah mataku terpejam.
“Gak
semua coklat itu rasanya manis. Kamu tau rasanya coklat asli?”
“Hm,
sebelum selimutnya dibuka, rasa coklat kental pasti udah tercium. Ketika satu
gigitan melebur, tidak hanya manis, kadang kita akan merasa ada satu sisi yang
terasa pahit. Semakin dia melebur, semakin terasa perpaduan rasa pahit dan
manis. Coklat, selalu memberi rasa tenang bahkan ketika hati hancur.”
“Kamu
seperti itu. Kadang terasa manis, kadang terasa pahit.”
“Maksud
suster?”
“Udah
malam, waktunya pasien istirahat. Selamat malam coklat kecil.”
Aku
memandang jauh ke arah suster Reva yang meghilang di balik pintu. Seperti
coklat, kadang terasa manis kadang terasa pahit. Mungkin yang ia maksud adalah
hatiku yang selalu berubah. Ya, tepat seperti apa yang suster Reva bilang. Aku
seperti coklat yang setiap sisinya merupakan perpaduan rasa manis dan pahit.
Kadang terasa nyaman ketika rasa manis itu mendominasi, aku melihat setitik
cahaya dari balik ranting pohon yang berdiri tegar dari balik jendela kamarku.
Dan kadang, aku gak bisa lihat apa pun dari balik ranting itu, hanya gelap dan
rasa sakit ketika rasa pahit itu datang dan mulai mendominasi hidupku.
“Loh,
kok kamu keluar kamar?” sapa seorang suster menghampiriku di bangku taman.
“Di
kamar pengap suster. Sebentar aja, saya mau duduk disini.”
“Ya
udah, lima belas menit ya.”
“Iya
sus.”
Langit
biru ini, entah aku masih bisa menikmatinya besok atau enggak. Sekarang, aku
benar – benar merasa asing pada diriku sendiri. Ada yang berubah, dan perubahan
itu membawaku pergi lebih jauh. Tuhan, sampai kapan aku terpenjara dalam rasa
takutku sendiri, aku lelah setiap kali mendapati diriku di tempat ini. Setiap
kali menyadari aku semakin lemah dari hari kemarin. Mereka yang melihatku
tegar, gak pernah tau apa yang ada di dalam hatiku. Gemuruh dahsyat dan
berkecambuk, sekuat apa pun aku menolaknya, ia tetap lebih kuat dari benteng
tempatku berlindung.
“Udah
selesai nih?” tanya Dokter Arlan mengejarku dari belakang.
“Maunya
sih satu jam dokter.”
“Sebenernya
sih, lebih dari satu jam boleh.”
Aku
menghentikan langkah kakiku.
“Tapi
kalo kondisi kamu benar – benar fit.”
“Saya
udah lebih baik kok dok, buktinya saya bisa keluar kamar sendiri, muka juga gak
keliatan pucat. Udah gak sabar masuk kuliah lagi.”
“Kita
tunggu hasil pemeriksaan terakhir ya. Kalo semua baik – baik aja, hari itu juga
kamu boleh pulang. Ayo, saya antar ke kamar.”
Dengan
ditemani dokter Arlan, aku berjalan menuju kamar peristirahatku, tempat dimana
rasa pahit coklat lebih mendominasi hidupku. Sepanjang perjalanan, tak
sedikitpun aku dan dokter Arlan buka suara, kami hanya melontarkan aksi saling diam
yang menciptakan suasana hening. Namun hal itu tidak berlangsung lama ketika
kami melintasi ruang UGD.
Langkah
kakiku terhenti seketika. Aku menangkap suara jerit tangis seorang wanita
berparas cantik dengan tinggi semampai. Di sampingnya berdiri seorang pria yang
umurnya enam tahun lebih tua dari wanita tersebut, mungkin suaminya. Perlahan
aku menghampiri sepasang suami istri itu. Keduanya langsung menerobos masuk ke
ruang UGD. Aku menoleh ke dalam ruang UGD, mencoba untuk mencari tau apa yang
tengah terjadi. Ada tubuh lemah terkulai di atas sebuah tempat tidur, disana
mataku melihat beberapa suster sedang mencopot beberapa alat yang terpasang di
badan seorang gadis.
“Leukimia.”
ujar dokter Arlan yang turut menoleh ke dalam ruangan.
“Tapi
dia masih kecil, mungkin masih SMP.”
“Kita
gak pernah tau seperti apa kematian akan datang.”
Entah
karna ucapan dokter Arlan atau karna jerit tangis pilu itu, ada tetesan air
yang mengalir dari sudut mataku. Hatiku mulai berkecambuk lagi, aku mulai
berfikir bagaimana kematian akan datang menjeputku kelak.
“Cinta!!”
teriak seorang pria berlari menuju tempatku dan dokter Arlan berdiri.
Tanpa
menghiraukan kami, pria itu langsung menerobos masuk ke dalam dengan air mata
yang berlinang. Tertangkap jelas oleh mataku susana duka di dalam sana. Pria itu
memeluk tubuh gadis kecil yang terbaring dengan erat, sayup – sayup terdengar
suaranya mengatakan “Kakak udah datang”. Melihat kondisiku yang ketakutan,
dokter Arlan berusaha untuk membawaku pulang ke kamar.
“Saya
mau disini dok, tinggalin saya disini ya.” pintaku.
“Jangan
lama – lama ya, kamu harus istirahat.” ucap dokter Arlan kemudian berlalu.
Sepeninggalan
dokter Arlan, aku masih setia menjadi saksi rasa duka yang mendalam dari orang
– orang di dalam sana. Beberapa suster yang masih berada di dalam kini mulai
menarik kain putih sampai menutupi wajah gadis kecil yang menjadi sumber duka mereka.
Tak
berapa lama, mereka semua keluar membawa tubuh tak bernyawa itu entah kemana.
Kesedihan mendalam yang menyelimuti mereka kini, rasanya pasti seperti racun yang
siap beredar ke semua pembuluh darah, dan dalam hitungan menit racun itu siap
menjadi satu – satunya pembunuh tanpa dosa.
Aku
menghentikan langkah kakiku ketika salah seorang dari mereka duduk di lantai
dengan raut wajah yang semakin mencerminkan rasa sedihnya. Perlahan aku
menghampirinya, dan duduk di hadapannya. Tidak, yang aku rasakan ini bukan
hanya sekedar rasa iba, tapi lebih dari itu, entah harus menyebutnya apa.
“Seperti
coklat.” ucapku memulai pembicaraan sambil memberikan sebatang coklat padanya.
Pria
itu menatapku sejenak kemudian melanjutkan aksi tangisnya.
“Kita
gak pernah tau kapan kematian akan datang menjemput kita, dan seperti apa dia
akan memisahkan kita dari orang – orang yang kita sayang. Hidup itu seperti
coklat kan, gak semua rasanya manis. Kadang kita di kejutkan dengan rasa pahit yang mendominasi.
Tapi kalo kita bisa merasakan pahit dan manis itu melebur dalam satu rasa, saat
itu kita akan tau kalo kematian bukan hal pasti yang memisahkan kita dari dia
yang udah pergi.”
Pria
ini kembali menatapku. Mata sembabnya membuatku tak ingin beranjak dari
sisinya. Dan entah mengapa, aku memberanikan diri untuk membawanya menangis
dalam pelukanku. Pria berwajah blasteran yang tak pernah kukenal sebelumya ini,
untuk yang pertama kalinya dalam hidupku, aku memeluk seorang pria selain
ayahku.
Siang
ini sesuai dengan yang dijadwalkan, aku dan kedua orang tuaku datang berkunjung
ke ruangan dokter Arlan. Aku sedikit ragu untuk menginjakkan kakiku ke ruang
praktik dokter muda itu, jantungku mulai berdebar ketika mengetahui maksud
kunjungan kami adalah untuk mengetahui hasil akhir dari pemeriksaan terakhirku.
Tuhan, rasanya aku dihadapkan pada kiamat kecil dalam hidupku. Banyak pemikiran
yang mulai menghantuiku kini, belum lagi rasa takut yang masih setia
mencekamku.
Aku
menghentikan langkah kakiku tepat di depan pitu masuk ruang kerja dokter Arlan,
mama dan papaku sudah masuk terlebih dahulu. Beberapa kali kutarik nafas
panjang untuk menenangkan pikiran dan perasaanku. “Everything’s gonna be okay.
God and His blessing stay always with me.” Hanya kalimat ini yang selalu menggema
setiap kali aku dihadapkan pada rasa takutku. Sekali lagi kutarik nafas yang
panjang dan mengeluarkannya secara bersamaan dari hidung dan mulutku. Merasa cukup
tenang, ku hampiri kedua orang tuaku yang telah bertemu dokter Arlan terlebih
dahulu.
“Keliatan
tegang.” ucap dokter Arlan melontarkan senyum untuk mencairkan suasana.
“Jadi,
hasilnya gimana dok?” tanya papa cemas.
“Semuanya
baik – baik aja kok. Grace bisa pulang hari ini juga, tapi harus tetap minum
obat, dan rajin cek up.”
Mendengar
pengakuan dokter Arlan, kontan aku dan orang tuaku bernafas lega. Dengan Akhirnya setelah satu bulan di rawat intensif
di tempat ini, aku bisa kembali pada duniaku. Dunia tanpa bau obat, dunia
dengan wajah cerah sang Orion, dunia dengan sejuta mimpi yang harus terwujud
sebelum Tuhan memanggilku kembali kesisi-Nya. Aku sedikit tidak sabar memulai
aktifitasku di luar kamar dengan bau obat ini. Dan hal pertama yang ingin aku
lakukan adalah, mengunjungi Universitas Musik terkenal di Jakarta. Tempat dimana
aku tidak pernah merasa sendirian, tempat dimana ada banyak suara yang memecah
kesunyianku.
“Jagan
lupa minum obat ya, istirahat juga.” ujar suster Reva seraya memelukku.
“Makasih
untuk semuanya suster. Saya pasti hubungin suster terus.”
“Harus,
kalo gak ada kabar dari kamu, suster bakalan marah dan gak mau kontrol kamu
lagi kalo kamu balik kesini.”
“Kalo
bukan suster yang kontrol, berarti dokter Arlan juga gak bakalan datang ke
kamar aku dong.”
Suster
Reva tertegun, ia melepaskan pelukannya dan mulai menatapku tajam.
“Ih,
kamu ini. Emang ada alasan apa dokter Arlan gak mau datang ke kamar kamu lagi? Kan
kamu harus diperiksa pagi siang malam.”
“Iya
sih sus, tapi dokter Arlan jadi semangat datang karna ada suster. Kan dokternya
suka sama suster.”
“Masa?”
“Kalo
gak percaya, tanya aja sama orangnya langsung. Tuh!” jawabku kemudian
mengacungkan jari telunjukku ke arah dokter Arlan yang berdiri tak jauh dari
kami.
Ku
hampiri dokter Arlan yang terlihat salah tingkah. Mataku menangkap rona merah
di pipinya ketika aku mengedipkan mata kananku.
“Kalo
suka, bilang aja dok, ntar hilang loh.”
“Ka...
ka... kamu ini, bilang apa coba?”
“Masa
harus saya ajarin? Saya masih sembilan belas tahun loh dok.”
“I..
i.. i.. itu.....”
“Lama
deh, mana nih dokter yang terkenal cool seantero Rumah Sakit?” godaku sambil
tersenyum.
“Saya
antar kamu sampai depan ya.” timpal dokter Arlan mengalihkan pembicaraan.
Aku
tersenyum menahan tawa mendengar ucapan dokter Arlan, dengan lembut aku menolak
tawarannya, berharapan dokter muda ini akan memanfaatkan kesempatannya berdua
dengan suster Reva dengan sebaik - baikya. “Kali aja bakalan ada aksi
penembakan” pikirku.
Aku
terus melangkahkan kakiku menuju pintu keluar. Dari balik pintu kaca itu, aku
bisa melihat duniaku dengan jelas. Ada suara denting piano yang mulai terurai
lembut di telingaku. Tepat di luar sana, aku mendapati cahaya hangat yang
selama ini menerobos masuk ke dalam kamarku dengan cara uniknya.
“Besok
Grace boleh langsung kuliah kan ma?” tanyaku pada mama di sela makan malam
keluarga kami.
“Tapi
jangan lupa bawa obatnya, kalo sakitnya kambuh harus langsung minum obat.”
“Papa
juga gak mau tau, jangan ada aksi buang obat lagi. Atau....”
“Atau
lebih baik Grace tinggal di Rumah Sakit terus, jadi ada yang kontrol minum
obat, makan teratur dan istirahat yang cukup. Iya kan pa?”
“Papa
sama mama gak mau kamu kenapa – napa.”
Aku
beranjak dari tempat dudukku, ku hampiri mama dan papa yang mulai kehilangan
nafsu makannya. Kuraih tangan kedua orang yang sangat kucintai ini,
menyatukannya dan dengan lembut menempelkannya di pipi kiri dan kananku.
“Grace
gak mau liat mama papa sedih. Kalian berdua, anugrah yang paling indah yang
Tuhan kasih. Jangan cemas ya ma, pa.” ungkapku kemudian merangkul kedua orang
tuaku.
Andai
aja aku tau berapa lama lagi waktu yang aku punya untuk tetap ada di samping
mereka, aku ingin Tuhan tau, betapa aku sangat bersyukur di lahirkan dari rahim
seorang ibu yang sangat hebat dan berasal dari benih seorang ayah yang penuh
dengan kehangatan. Setidaknya, aku bisa bilang ke seluruh dunia kalo seorang
Grace hanya perlu mama dan papanya untuk menjadi satu – satunya harta terindah
yang pernah Tuhan sediakan semasa hidupku.
1 komentar:
Bagus :)
Posting Komentar